~ ~
Pencarian Tugas Akhir :
.: Menu :.
   
.: Tugas Akhir Tiap Fakultas :.
   

PENENTUAN LOCUS DELICTI DALAM KEJAHATAN MAYANTARA (CYBER CRIME): STUDI TERHADAP BEKERJANYA APARAT DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI SLEMAN YOGYAKARTA,(112)
HAFID GINANJAR NUGROHO(E0002137)
Hukum dan Masyarakat


ABSTRAK

 

HAFID GINANJAR NUGROHO, E0002137, PENENTUAN LOCUS DELICTI DALAM KEJAHATAN MAYANTARA (CYBER CRIME): STUDI TERHADAP BEKERJANYA APARAT DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN NEGERI SLEMAN YOGYAKARTA, Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, Penulisan Hukum (Skripsi), 2006.

Tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan hukum ini adalah untuk mengetahui penentuan locus delicti dalam kejahatan mayantara (cyber crime) oleh aparat di wilayah hukum Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta. Selain itu, penulisan hukum ini juga bertujuan menemukan kendala yang dihadapi oleh aparat dalam menentukan locus delicti kejahatan mayantara (cyber crime).

Penulisan hukum ini termasuk jenis penelitian hukum empiris (penelitian hukum non-doktrinal) dengan pendekatan kualitatif. Sumber data yang penulis gunakan adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer diperoleh dari wawancara penulis dengan polisi yang berkompeten di Polda DIY, hakim di Pengadilan Negeri Sleman, Jaksa di Kejari Sleman. Sedangkan sumber data sekunder yang penulis gunakan berasal dari bahan kepustakaan seperti buku, artikel internet, koran, undang-undang dan kamus. Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis, yakni dengan cara wawancara dan studi pustaka. Sedangkan teknik analisis data menggunakan interactif model of analisis.

Hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut adalah: Pertama, penentuan locus delicti dalam kejahatan mayantara (cyber crime) oleh aparat di wilayah hukum Pengadilan Negeri Sleman, didasarkan pada tempat akses. Hal tersebut terlihat dari penanganan satu-satunya kasus cyber crime yang berhasil dituntaskan proses hukumnya oleh aparat diwilayah hukum Pengadilan Negeri Sleman, yaitu kasus kartu kredit dengan pelaku Petrus Pangkur. Kedua, kendala yang dihadapi oleh aparat dalam menentukan locus delicti kejahatan mayantara (cyber crime) adalah masih kurangnya jumlah aparat yang paham mengenai teknologi informasi dan tidak adanya peraturan tentang kejahatan mayantara (cyber crime). Adanya perbedaan karakteristik antara kejahatan mayantara (cyber crime) dengan kejahatan konvensional. Selain itu belum adanya komputer forensik di Indonesia yang digunakan untuk melacak keberadaan tempat akses dari kejahatan mayantara (cyber crime) merupakan kendala tersendiri dalam menemukan tempat akses pelaku kejahatan tersebut.

Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah terbukanya wacana tentang cara menentukan locus delicti dalam kejahatan mayantara (cyber crime) dari penelitian terhadap penentuan locus delicti kejahatan mayantara (cyber crime) yang pernah dilakukan oleh aparat di wilayah hukum Pengadilan Negeri Sleman Yogyakarta. Selain itu, dengan diketemukannya beberapa kendala dalam menentukan locus delicti tersebut, maka penulis dapat mengungkapkan alternatif pemecahan yang berbentuk saran-saran dengan harapan saran-saran tersebut dapat digunakan dan oleh pihak-pihak yang terkait.

Kembali 

Copyright © 2006