~ ~
Pencarian Tugas Akhir :
.: Menu :.
   
.: Tugas Akhir Tiap Fakultas :.
   

PERKAWINAN BEDA AGAMA DIPANDANG DARI ISLAM DAN KATOLIK (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Kabupaten Wonogiri) (274)
(E. 0004281)
Hukum dan Masyarakat


ABSTRAK

 

 

Sebastian Ardy Arivianto, E.0004281, PERKAWINAN BEDA AGAMA DIPANDANG DARI ISLAM DAN KATOLIK (Studi Kasus di Pengadilan Negeri Kabupaten Wonogiri), Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta, 2008.

Tujuan dari penulisan hukum ini adalah untuk mengetahui pandangan Islam dan Katolik terhadap perkawinan beda agama, alasan-alasan diijinkannya perkawinan beda agama oleh Pengadilan Negeri Wonogiri serta cara-cara yang ditempuh untuk mengatasi perbedaan pandangan dalam rumah tangga yang dialami oleh para pelaku perkawinan beda agama.

Penelitian ini termasuk kedalam penelitian hukum empiris yang bersifat deskriptif. Jenis data yang dipergunakan ialah data primer dan data sekunder. Data primer yaitu keterangan atau fakta yang diperoleh secara langsung melalui penelitian di lapangan. Sedangkan data sekunder yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung dan diperoleh melalui bahan pustaka meliputi buku-buku, majalah, literatur, peraturan perundang-undangan. Teknik pengumpulan data yang dipergunakan adalah dengan cara wawancara dan studi dokumen. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan cara teknik analisis kualitatif dan studi kasus. Teknik analisis kualitatif adalah pendekatan yang digunakan oleh penulis dengan mendasarkan pada data-data yang dinyatakan oleh responden secara lisan atau tertulis dan juga perilakunya secara nyata kemudian diteliti dan dipelajari sebagai suatu yang utuh.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan beda agama menurut Islam dan Katolik merupakan perkawinan yang tidak sah. Meskipun demikian, pihak Pengadilan Negeri dapat memberikan ijin perkawinan beda agama kepada para pihak dengan alasan-alasan tertentu, seperti usia minimal, untuk mengatasi kekosongan hukum, UU Perkawinan tidak mengatur perkawinan beda agama, persamaan hukum, perbedaan agama bukan merupakan halangan, untuk menghindari terjadinya kumpul kebo, dan sebagainya. Setelah diijinkan oleh Pengadilan Negeri, proses perayaan keagamaan diserahkan kepada para pihak yang berkepentingan yang selanjutnya dicatatkan di Catatan Sipil. Dalam mengarungi kehidupan berumah tangga diperlukan cara-cara/kiat-kiat oleh pelaku perkawinan beda agama demi tercapainya kebahagiaan bersama, seperti kesetiaan, toleransi, saling memaafkan, menerima pasangannya secara apa adanya dan komunikasi. Manfaat yang diperoleh dari penelitian ini adalah untuk perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu hukum pada khususnya terutama bagian Humas, memberikan gambaran pada instansi yang bergerak di bidang perkawinan, memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti dan dapat dipergunakan sebagai bahan masukan terhadap para pihak yang mengalami dan terlibat langsung dengan judul ini.

 

 

 

Kembali 

Copyright © 2006