~ ~
Pencarian Tugas Akhir :
.: Menu :.
   
.: Tugas Akhir Tiap Fakultas :.
   

PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PERIKATAN DAN KEDUDUKAN PENJUAL LANGSUNG DALAM DIRECT SELLING MULTILEVEL MARKETING (181)
(E.0003160)
Hukum dan Masyarakat


ABSTRAK

 

 

ENY ASTUTI. E.0003160. PERSPEKTIF HUKUM ISLAM TERHADAP PERIKATAN DAN KEDUDUKAN PENJUAL LANGSUNG DALAM DIRECT SELLING MULTILEVEL MARKETING. Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret Surakarta. Penulisan Hukum (Skripsi). 2007

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tinjauan hukum Islam terhadap perikatan yang terjadi dalam direct selling multilevel marketing dan tinjauan hukum Islam terhadap kedudukan penjual langsung dalam direct selling multilevel marketing.

 

Penelitian ini merupakan penelitian hukum normatif yang bersifat preskriptif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan undang-undang (statute approach). Penelitian ini mengkaji bahan-bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang berupa peraturan perundang-undangan, kitab suci Al Quran dan Al Hadits,buku, dokumen resmi, karya ilmiah, artikel, serta kamus maupun Ensiklopedia. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan menggunakan cara atau metode analisis data berupa metode analisis isi atau disebut juga content of analysis.

 

Berdasarkan penelitian ini diperoleh hasil bahwa perikatan di dalam terminologi hukum Islam disebut dengan akad. Bentuk-bentuk akad yang terjadi dalam operasionalisasi direct selling multilevel marketing yaitu, sebagai berikut: pertama pada saat perjanjian antara produsen dan perusahaan penjualan langsung, bentuk akad yang terjadi adalah akad pemberian kuasa, yang dalam literature fiqih termasuk dalam jenis akad yang berupa pemberian kepercayaan dalam kegiatan usaha, bentuknya adalah akad al-wakalah. Kedua pada saat Penjual-langsung menjadi anggota perusahaan direct selling multilevel marketing, bentuk akad yang terjadi adalah akad untuk menjadi distributor/ perantara penjualan/ penjual-langsung, atau disebut juga akad untuk menjadi simsar. Ketiga pada saat terjadi jual-beli antara penjual-langsung dan konsumen, bentuk akad yang terjadi adalah akad jual-beli, yaitu perjanjian antar penjual (penjual-langsung) untuk menyerahkan barang kepada pembeli, dan pembeli menyerahkan uang sebagai pembayaran harga. Dalam literature fiqih disebut akad jual-beli (al-bai). Selain itu, dalam sistem direct selling multilevel marketing sering pula terjadi jual-beli secara pesanan,yaitu pembeli akan memesan produk yang dia inginkan kepada penjual-langsung untuk dibawakan di kemudian hari. Sebagai tanda jadi, pembeli akan tetap membayarkan sejumlah uang dimuka kepada penjual-langsung sesuai harga produk yang akan dibelinya, dan penjual-langsung berjanji akan menyerahkan produk pada waktu yang telah mereka sepakati bersama, dalam literature fiqih disebut akad jual-beli (al-bai) dalam bentuk khusus yaitu as-salam. Dari beberapa akad yang terjadi dalam sistem penjualan direct selling multilevel marketing diatas, terutama pada saat penjual-langsung menjadi anggota perusahaan direct selling multilevel marketing, ada pendapat yang menyatakan bahwa terdapat bentuk akad yang diharamkan di dalam syariat Islam  yaitu adanya dua akad dalam satu akad, yaitu shafqatayn fi shafqah jika dalam bentuk jasa dan bay’atayn fi bay’ah jika dalam bentuk barang.. Dalam Islam tidak diperbolehkan terjadinya dua akad dalam satu akad/transaksi dasar hukumnya adalah adanya Hadits yang melarang bentuk dua akad dalam satu transaksi itu.

 

Berdasarkan penelitian ini pula diperoleh hasil bahwa penjual-langsung yang bekerja mempromosikan dan memasarkan produk kepada konsumen dalam direct selling multilevel marketing memiliki kedudukan sebagai perantara penjualan, ia bukanlah karyawan perusahaan sehingga tidak menerima gaji tetap, namun memperoleh upah/kompensasi dari hasil penjualan yang dilakukannya sendiri maupun dari hasil penjualan yang dilakukan downline yang direkrutnya. Dalam terminology hukum Islam, ia disebut sebagai simsar. Dalam hal kedudukan penjual-langsung sebagai simsar dalam sistem direct selling multilevel marketing ini ada yang berpendapat bahwa akan terjadi mewakili wakil/wakil atas wakil/perantara atas perantara/ maakelar atas makelar/ syamsarah ala syamsarah, karena seorang penjual-langsungini akan menarik atau mengambil prosentase keuntungan dari penjual-langsung  yang lain. Praktek semacam in I dalam hukum Islam hukumnya haram. Namun demikian,ada yang berpendapat pula bahwa apa yang terjadi pada sistem direct selling multilevel marketing bukanlah distributor merekrut orang untuk menjadi distributor bagi dirinya sendiri (tidak ada akad kerja antara distributor dengan distributor). Atau merekrut orang menjadi distributornya distributor, akan tetapi mereka mengajak orang lain untuk sama menjadi distributor dari perusahaan tersebut, sehingga dalam hukum Islam dibolehkan.

 

 

Kembali 

Copyright © 2006